Artikel

Marsiadapari Bentuk Gotong Royong Orang Batak

. Bagi suku Batak, marsiadapari menjadi kebiasaan sejak lama dalam hal pengerjaan di sawah atau “ladang”, serta untuk kegiatan pesta adat. Dari persamaannya “marsiadapari” mempunyai arti yang sama dengan gotong royong atau kerjasama

Jadi, kegiatan ini dilakukan dalam rangka saling membantu antara satu dengan yang lain. Hal ini juga menjadi tradisi tersendiri bagi orang Batak ketika musim panen atau “marsuan (menanam)”.

Jika merujuk dari persamaan arti marsiadapari dengan gotong royong, maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong royong mempunyai arti: “bekerja bersama-sama (tolong-menolong, bantu-membantu)”.

Nah, sekali lagi melalui arti yang ada di dalam KBBI kembali menegaskan arti yang sama. Gotong royong sudah dilakukan sejak dulu bagi orang Batak dan sudah merupakan tradisi tersendiri dalam mengerjakan pekerjaan yang sifatnya umum dan mempunyai kesamaan bagi banyak masyarakat di sekitar kampung atau komunitas orang Batak. Jadi, demikianlah adanya pengertian dari marsiadapari bagi orang Batak.

Dalam lingkup yang lebih luas, mar-siadapari sesungguhnya sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dalam suatu komunitas atau lingkungan masyarakat. Indonesia sendiri sesungguhnya mempunyai semboyan “gotong royong” sejak dahulu. Namun, hal ini hanya kita dengarkan atau kita rasakan bagi masyarakat pedesaan atau perkampungan yang jauh dari pusat kota.

Mengapa? Ya, salah satu alasan yang paling tepat adalah bahwa biasanya orang di desa atau di kampung mempunyai kegiatan yang mayoritas sama, yakni berkerja sebagai petani di sawah dan ladang. Sebaliknya, penduduk di kota lebih mempunyai pekerjaan yang beragam dan tempat yang berjarak dari rumah. Hal ini memungkinkan semakin jarangnya interaksi antara yang satu dengan yang lain.

Baca Juga  Bah! Pasar Onan Tarutung Ludes Terbakar

Apa yang mau saya angkat dari sebuah kata “marsiadapari” ini? Melalui tulisan ini, saya ingin mencoba menggugah para kaum muda orang Batak secara khusus dan Indonesia lebih luasnya untuk sejenak merenungkan, apakah kita memang saat ini masih ingat dengan kata ini dan memaknainya dengan benar?

Ini saya kira pertanyaan bagi kita orang muda dari suku Batak yang kian jauh dari tradisi adat, yang sesungguhnya bisa menjadi pegangan dalam hidup kita. Sikap kebersamaan yang kian menipis ketika di tanah rantau menjadi catatan tersendiri bagi penulis. Sering sekali kita (suku Batak-red) menghilangkan identitas kita hanya karena sebuah “gengsi”. Pentingkah gengsi bagi kita? Sampai-sampai kita menghilangkan identitas “habatakon” (keaslian suku Batak).

Marsiadapari yang memang sudah dilakukan oleh para pemuka adat orang Batak, saya kira menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk generasi muda saat ini. Jika dahulu ini dilakukan para pemuka adat Batak sebagai bagian dari tujuan kerja yang besar dalam pesta adat, panen dan kegiatan besar lainya.

Marsiadapari ini sifatnya untuk meringankan pekerjaan dengan sistem bersama-sama. Caranya juga unik dan menarik untuk dicermati. Misalkan saja dalam acara panen hasil bumi (padi). Jadi sistem kerjanya adalah secara bersama mengerjakan sawah atau ladang salah satu warga secara serentak dan demikian secara terus menerus dengan jadwal hingga sampai semua mendapatkan giliran. Pekerjaan pun tuntas.

Uniknya lagi, marsiadapari ini dilakukan dengan penuh tanggungjawab bahwa pekerjaan itu dianggap sebagai miliknya, sehingga hasilnya akan lebih baik. Sehingga kegiatan marsiadapari menjadi catatan penting untuk diwariskan bagi kaum muda saat ini.

Walau kegiatan seperti ini sangat disayangkan sudah mulai memudar. Memudarnya kegiatan marsiadapari bukan hanya bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, marsiadapari juga sudah jarang kita saksikan di daerah “bonapasogit” (kampung halaman suku Batak). Ya, walaupun memang masih ada kita temukan kegiatan marsiadapari di daerah-daerah tertentu yang masih eksis mempertahankan tradisi ini.

Baca Juga  Makna Dari Mangulosi dan Upa-Upa

Marsidapari, saya kira seharusnya bisa diterjemahkan dalam konteks modern saat ini.

Marsidapari yang sebelumnya untuk kegiatan pesata adat dan pekerjaan di sawah/ladang, maka bisa dipraktekan dalam konteks bermasyarakat lebih luas. Artinya hal ini tidak hanya dilakukan oleh sesama orang Batak tetapi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Tetapi yang menjadi catatan adalah dengan tradisi yang sudah dibawa sejak orang Batak ada, maka orang Batak (kaum muda-red) sebaiknya mulai mengambil sikap sebagai motor “gerakan marsiadapari”.

Misalnya bagi anak Batak rantau mempunyai sikap solidaritas antar warga. Karena prinsip dari marsiadapari adalah mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab demikian juga menggapkan ketika memberikan pertolongan adalah itu bagian dari masalah kita. Dengan demikian kita akan merasakan pekerjaan yang luar biasa jika dikerjakan secara bersama dan bekerjasama atau marsiadapari.

Untuk itu, marsiadapari bisa menjadi kekuatan bagi kita kaum muda Batak. Para pendahulu adat Batak telah memulainya dengan mantap dan memberikan dampak luar biasa pula bagi kehidupan suku Batak ketika itu. Nah, sekarang kita kaum muda Batak mencoba melestarikan tentu saja dalam konteks yang berbeda pula.

Dunia sekarang yang berbeda tetapi bisa mempunyai makna sebagaimana yang dilakukan para pendahulu suku Batak , yakni “marsiadapari”. Eta hamu naposo ni halak Batak marsiajar ma hita boi “marsiadapari” dohot marsiurup-urupan di akka parukilon na adong (Ayo kepada kita semua kaum muda Batak untuk belajar berkerjasama dan saling tolong menolong dengan masalah yang ada)..!

Facebook Comments
Hitabatak
Berbagi informasi menarik tentang Batak.
http://www.hitabatak.com