Artikel

Pohon Hariara Yang Memiliki Sejuta Makna Bagi Orang Batak

Keberadaan pohon hariara maupun pohon baringin yang hampir setiap perkampungan di Bonapasogit masih tumbuh subur, menjadi suatu cirikhas perkampungan orang batak yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Tak heran jika anda berkunjung ke perkampungan batak toba (huta batak) maka anda masih dapat menemukan huta (perkampungan) batak yang ditumbuhi pohon hariara/beringin.

Dalam catatan sejarah nenek moyang batak toba, pohon hariara memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari, kerena dahulu pohon beringin/hariara dijadikan sebagai salah satu patokan dalam menentukan layak tidaknya suatu lahan untuk di jadikan sebagai tempat tinggal atau hunian. Konon bebit pohon hariara akan di tanam di suatu lokasi yang akan di huni. Penanaman bibit pohon hariara terebut akan di pantau dalam waktu tujuh hari. Selanjutnya, jika bibit pohon hariara tersebut tumbuh dengan baik, maka mereka memutuskan bahwa lokasi tersebut layak di huni karena mereka meyakini tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan dan cadangan air yang baik dan hal sebaliknya, jika bibit pohon hariara yang mereka tanam terlihat layu maupun mati, maka tanah tersebut tak layak di huni.

Selain itu, pohon hariara juga di gunakan sebagai tempat merundingkan suatu hal penting (rapat) dan yang hadir disana bukanlah sembarang orang, melaikan hanya di ikuti oleh para raja-raja yang lebih dikenal dengan istilah bius. Bahkan jauh sebelum masuknya ajaran agama, pohon hariara dulunya disakralkan sebagai tempat untuk berkomunikasi dengan Tuhan (Mulajadi) dengan menaroh berbagai sesajian atau makanan yang disajikan khusus dalam ritual batak toba yang ditempatkan dibawah pohon hariara.

Pohon hariara atau pohon beringin juga dijadikan sebagai lambang kesatuan dan kesejahteraan khususnya dalam hal keturunan. Dengan ukuran yang cukup besar nan rindang, pohon hariara juga menjadi suatu pertanda atau batas antar perkampungan. Bahkan dalam pelaksanaan sebuah tradisi yakni upacara kematian untuk jaman sekarangpun, penggunaan ranting beserta daun pohon inipun masih dapat kita lihat dalam bentuk simbol atau dikenal dengan istilah Sijagaron. Dirangkai dengan tanaman lain, yakni padi, sanggar, silinjuang dan ompu-ompu, Sijagarong disajikan dalam ampang (wadah/tempat sijagaron). Namun dalam hal penyajian, sijagaron umumnya hanya dapat disajikan dalam upacara kematian warga yang dianggap sudah sejahtera atau Saurmatua.

Baca Juga  Lyodra Margaretha Ginting Gadis 13 Tahun Asal Medan Bawa Bangga Indonesia ke Pentas Dunia

sumber : bonpasnews.com

Facebook Comments
Hitabatak
Berbagi informasi menarik tentang Batak.
http://www.hitabatak.com