Artikel

Putra Batak Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-3 Adam Malik Batubara

Wahh saat pertama kali ketemu artikel ini, saya sendiri sangat kaget dan tentu sangat bangga.Bahwa pernah ada putra Batak menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.Adam Malik Batubara atau yang lebih dikenal dengan nama Adam Malik merupakan Wakil Presiden ke-3 Indonesia yang yang menjabat dari 23 Maret 1978 – 11 Maret 1983 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Beliau juga ditetapkan sebagai salah seorang Pahlwan Nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1998 berdasarkan Kepres Nomor 107/TK/1998.

Adam Malik Batubara yang dijuluki “ si kancil “ ini dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada tanggal 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis, beliau anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ayah Adam Malik merupakan seorang pedagang kaya raya di Pematang Siantar.

Pada usia 17 tahun Adam telah menjadi ketua Partindo di Pematang Siantar dari tahun 1934 sampai 1935 untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dan keinginannya untuk maju dan berbakti kepada Bangsa dan Negara mendorong Adam untuk merantau ke Jakarta.

Pada usia 20 tahun Adam bersama kelima temannya yaitu Sipahutar, Abdul Hakim, Soemanang, pandu Kartawiguna, dan Amir Pane menjadi pelopor bedirinya Kantor Berita Antara (KBA) yaitu pada tahun 1937 yang berkantor di Jl. Pinangsia 38 Jakarta Kota, yang kemudian pindah ke Jalan Pos Utara 53 Pasar baru, Jakarta Pusat. Dalam kantor tersebut Adam Malik menjabat sebagai Redaktur sekaligus Wakil Direktur. Dengan modal satu mesin tulis tua, satu mesin roneo tua, dan satu meja tulis tua mereka menyupali berbagai berita ke bermacam surat kabar.
Adam Malik pernah memimpin Partai Indonesia (Partindo) Pematang Siantar dan Medan pada tahun 1934- 1935. Dan pada tahum 1940- 1941 beliau pernah menjadi anggota Dewan Pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Dan pada tahun 1945 menjadi anggota Pimpinan Gerakan Pemuda untuk persiapan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Baca Juga  Meme Terkait Sangge-Sangge Yang Banyak Ditemukan di Media Sosial

Pada zaman penjajahan Jepang, Adam Malik sangat aktif bergerilya dalam gerakan pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Menjelang 17 Agustus 1945 bersama Chaerul Saleh, Sukrani, dan Wikani, beliau pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, beliau menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta.

Pada akhir tahun 50-an, Adam Malik masuk pemerintah sebagai Duta Besar Luar Biasa yang berkuasa penuh untuk Polandia dan Uni Soviet atas penunjukan oleh Ir. Soekarno. Pada Tahun 1962 karena kemampuannya berdiplomasi Adam Malik menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia dengan Belanda untuk pembebasan Irian Barat di Washington D.C, Amerika Serikat. Saat terjadinya pengaruh Partai Komunis Indonesia yang menguat, Adam Malik bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap musuh PKI, mereka dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra revolusi.

Pada tahun 1963, Adam Malik pertama kalinya masuk ke dalam jajaran kabinet, yaitu Kabinet yang bernama Kabinet Kerja IV sebagai Menteri Perdagangan sekaligus menjabat sebagai Wakil Panglima Operasi ke-I Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE). Pada tahun 1964, ia mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Delegasi untuk Komisi Perdagangan dan Pembangunan di PBB. Dan pada tahun 1965, Adam Malik memegang jabatan Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin. Pada tahun 1966, kariernya semakin gemilang ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) sekaligus sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di kabinet Dwikora II. Tahun 1966 juga, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, lewat televisi, ia menyatakan keluar dari Partai Murba karena pendirian Partai Murba, yang menentang masuknya modal asing.
Pada tahun 1971, ia terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB ke-26, orang Indonesia pertama dan satu-satunya sebagai Ketua SMU PBB. Saat itu dia harus memimpin persidangan PBB untuk memutuskan keanggotaan RRC di PBB yang hingga saat ini masih tetap berlaku.
Adam Malik meninggal dunia di Bandung pada tanggal 5 September 1984 karena kanker lever. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik yang sekarang berlokasi di Jl. Dipenogoro no.29 Jakarta Pusat. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan. Atas jasa-jasanya, beliau dianugerahi berbagai macam penghargaan, diantaranya adalah Bintang Mahaputera kl. IV pada tahun 1971, Bintang Adhi Perdana kl.II pada tahun 1973, dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998.

Facebook Comments