fbpx

Babi yang Dianiaya

Adat merupakan sebuah konstruksi sosial yang menjadi identitas suatu bangsa, suku bahkan golongan tertentu yang terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan berulang ulang kemudian disepakati menjadi norma dan nilai kehidupan dalam suatu masyarakat. Menurut Van Vollenhoven, adat adalah keseluruhan tingkah laku positif yang disatu pihak mempunyai sanksi (hukum) dan dalam keadaan lain tidak di kodifikasi. Sehingga secara konstruktif adat tidak bisa dipisahkan sebagai suatu identitas kelompok tertentu yang dilekati dengan aturan-aturan yang berlaku pada kelompok tersebut.

Dalam perspektif ke-Indonesiaan, Indonesia merupakan suatu bangsa yang memiliki identitas bangsa yang sangat beragam. Suku Batak, Jawa, Toraja, Dayak, Papua, Sunda, dan banyak lainnya. Suku tersebut memiliki adat dan adab masing masing dalam menjalankan kehidupan kelompoknya. Adat tersebut tidak bisa dipisahkan dari norma sosial yang berjalan beriringan. Batak merupakan pembahasan yang sangat menarik untuk didiskusikan dalam tulisan ini, karena berkaitan dengan wacana Pemerintahan Sumatera Utara yang menarasikan pemusnahan ternak babi di Sumatera Utara (Tribun-Medan.com, Kompas.com).  Tindakan itu secara langsung akan mengganggu stabilitas keadatan masyarakat Batak sebagai salah satu suku Bangsa Indonesia

Wacana pemusnahan babi di Sumatera Utara juga bermaksud atau mengarah pada pemusnahan dan pengurangan nilai sakral adat Batak. Secara umum, kontruksi sosial Batak sudah menjadikan babi sebagai ternak adat, karena dalam setiap upacara adat, babi menjadi konsumsi bagi suku Batak yang beragama Kristen. Makanan selain babi disediakan buat semua kalangan yang tidak memakan daging babi (disebut: Parsubang). Katakanlah dalam sebuah pesta pernikahan. Bagian tubuh seekor babi akan diberikan dan dibagikan kepada sanak keluarga pihak perempuan yaitu pihak pemberi perempuan mendapat bagian kepala (hula-hula), rahang bawah babi untuk perempuan (boru) dan rusuk/iga untuk paman perempuan (hula-hula) dan paha untuk sepupu (dongan tubu). Dalam prinsip penggunaan babi tersebut sangat erat kaitannya dengan falsafah hidup orang Batak yang disebut “dalihan natolu” yang artinya tiga tungku. Yang didalamnya ada istilah hormat kepada besan (somba marhula-hula), menjaga kekerabatan kepada sepupu (manat mardongan tubu) dan membujuk perempuan (elek marboru). Sehingga dalam struktur sosial bahwa pemusnahan ternak babi merupakan upaya pengurangan sakralitas adat Batak.

Baca Juga  Danau Toba Dinilai Penuhi Empat Pilar Pembangunan dan Pengembangan Geopark

Dalam sudut pandang lain, ternak babi merupakan topangan ekonomi bagi masyarakat Batak, hal tersebut bisa dilihat dari seberapa banyak transaksi ekonomi terkait ternak babi. Peternak babi biasanya menjual ternaknya kepada pelaksana adat untuk memperoleh keuntungan dan melanjutkan hidup.

Wacana pemusnahan babi oleh pemerintah provinsi Sumatera Utara akan berdampak pada lunturnya kesakralan adat Batak dalam menjalankan budaya, dan erat kaitannya berhubungan dengan ambisi wisata halal di kawasan danau Toba. Pemusnahan babi sama saja dengan pemusnahan adat bagi orang Batak pemakan babi yang selama ini bermukim di kawasan danau Toba. Indikasi hubungan antara wisata halal dengan pemusnahan babi karena terjadinya penyakit hog cholera secara tiba-tiba yang hanya terjadi di daerah danau Toba dan sekitarnya. Sedangkan di daerah lain yang mayoritas penduduknya juga beternak babi seperti NTT, Bali, Papua tidak terkena penyakit tersebut. Apabila dibandingan dengan virus H1N1 atau flu babi, seluruh daerah Indonesia terkena imbasnya. Tetapi kenapa hog cholera hanya sentral pada daerah danau Toba? Hal tersebut perlu kita pertanyakan. Pertanyaan tersebut bisa juga ditambahkan dengan kenapa setelah munculnya perlawanan berupa festival babi tiba-tiba penyakit itu menyerang?

Kembali lagi pada pokok pembahasan. Adat Batak merupakan adat yang sangat kental dengan babi sebagai komoditas adat, sehingga memusnahkan babi sama halnya dengan memusnahkan adat Batak secara perlahan. Perlu dilakukan kajian mendalam tentang pemusnahan ternak babi di daerah Sumatera Utara. Perlu secara langsung dilihat dari sudut pandang adat, budaya, ekonomi dan keterikatan sosial, bukan hanya menggunakan sudut pandang agama.

“Manusia beradab harus dekat dengan adat dan budaya dan manusia yang dekat dengan adat dan budaya tidak akan memperkosa budaya yang hidup”

Sumber : Titik Alinea

Facebook Comments