fbpx

Benarkah Nyi Roro Kidul Berasal Dari Tanah Batak?

Sejauh ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.

Legenda lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri seorang raja di Tanah Jawa.

Sinyalemen Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukannya tanpa alasan. Isu ini pertama kali dibicarakan tahun 1985, ketika dalam suatu acara adat Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa orang mengangkat masalah ini. Tetapi rupanya tidak terlalu mendapat respon yang hadir. Isu pun tenggelam dengan sendirinya.

Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,”. Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon. utra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang bernama  Siraja Batak , yang turun di Pusuk Buhit  dan mempunyai dua orang putra yaitu Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan mempunyai isteri yang bernama Si Boru Baso Bolon ,  dan mempunyai keturunan 5 orang putra dan 5 orang putri,

Putra (sesuai urutan):

1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu

3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).

4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)

5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

Putri (sesuai urutan):

1. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)

2. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)

3. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra    Raja    Isombaon

4. Sinta Haumasan

5. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Ketika Sibaso Bolon  hendak melahirkan Raja Uti, terjadi kejadian yang aneh, berkicaulah burung Patiaraja di dahan Pohon Beringin Tumburjati, beterbangan pula hulis-hulis, petir bergelegar, tiba waktunya, lahirlah seorang anak laki-laki tetapi ada kekurangan, karena kaki dan tangannya pendek bahkan hampir tak kelihatan. Maka Sibaso Bolonpun menangis melihat anaknya itu, tetapi dia dihibur Guru Tateabulan, dan mengatakan bahwa Mulajadi Nabolon sudah terlebih dahulu memberitahu hal itu kepadanya, sejak dia membuat parit perlindungan kampung. Merekapun membesarkan anak itu, dia cepat besar dan berbicara, tetapi nggak bisa duduk, dia hanya tidur-tiduran seperti miok-miok, itulah sebabnya dia disebut Siraja Miok-miok, yang lain menyebutnya Siraja Gumeleng-geleng.Setelah Siraja Miok-miok besar, dia minta kepada Ibunya Sibaso Bolon supaya dia diantar ke  gunung Pusuk Buhit, agar dapat martonggo (berkomunikasi) dengan Mulajadi Nabolon.

Maka Si Raja Uti diletakkan Ibunya di bawah pohon Piu-piu Tanggule,dengan harapan jika buahnya jatuh, ada buat makanannya. Dia juga diberi Pungga haomasan, supaya ada yang dijilat apabila dia lapar. Di tempat itulah Siraja Miok-miok martonggo  ke Mulajadi Nabolon agar berkenan melengkapi keadaan tubuhnya. Mulajadi Nabolon pun meluluskan permintaannya, tangan dan kakinya pun makin panjang, tetapi tumbuh juga ekornya seperti ekor bajonggir dan ada pula kulit tipis penyambung ruas tangan dan kakinya seperti sayap kelelawar.

Siraja Miok-miok kemudian martonggo, mengapa dia bernasib seperti itu, dulu ada kekurangannya, tetapi sekarang jadi lebih. Mulajadi Nabolon menjelaskan bahwa tubuhnya harus seperti itu supaya dia tidak bisa bergaul dengan manusia, karena dia akan jadi Malim yang dapat meneruskan permintaan manusia kepada Mulajadi Nabolon dan menyampaikan pesan Mulajadi Nabolon kepada manusia. Itulah sebabnya dia digelar Raja Hatorusan atau Raja Uti. Putri tertua Guru Tate Bulan adalah Biding Laut, dia memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, anak ini yang paling disayangi kedua orangtuanya. Dan juga adalah kembaran dari Gumellenggelleng alias Biakbiak alias Raja Uti. Jadi sewaktu Raja Uti masih bersama mereka ,Biding Laut selalu dekat dengannya.

Setelah Guru Tatea Bulan dan istrerinya meninggal, maka sebagai anak yang paling sulung yaitu Raja Uti, yang harus bertanggungjawab atas adik –adiknya, namun karena Raja Uti sudah terlebih dahulu bertapa ke Pusuk Buhit, maka tanggung keluarga harus dipikul oleh Saribu Raja, akan tetapi memili skandal cinta antara kedua saudaranya yaitu, Saribu Raja dengan Boru Pareme. Dan kedua adeknya Limbong Mulana dan Sagala Raja bersekutu untuk membunuh Saribu Raja karena dianggap telah membuat aib keluarga karena telah menjalin hubungan cinta terlarang mereka, kemudian Lau Raja segera memberitahukan serta menyuruh Saribu Raja agar pergi dari kampung halamannya.

Baca Juga  Profil Artis Batak : Hotman Paris Hutapea

Mendengar berita dari adiknya bahwa Saribu Raja pergi meninggalkan kampung halamannya sedangkan Boru pareme bersembunyi ke hutan. Saribu Raja berpesan kepada kakaknya Biding Laut katanya “Kakak adalah anak yang paling sulung dari keturunan orang tua kita, oleh karena itu saya mohon agar kakak menjaga dan membina adik-adik kita semuanya. Saya Sariburaja adikmu yang seharusnya menerima tanggung jawab tersebut. Namun aku gagal dan akan pergi meninggalkan tempat ini, karena adik kita Limbong Mulana dan Sagala Raja akan membunuh saya. Kakak tidak perlu mencariku! permintaanku  agar kakak menjaga , mengayomi dan memelihara keutuhan nama besar keluarga kita.” Sebagai anak sulung Biding Laut berpikir harus mencari adiknya dan mempersatukan kembali adik-adiknya. Biding Laut bertekad harus menemukan Saribu Raja agar terhindar dari pembunuhan adiknya yang lain.

Biding Laut mengambil keputusan berangkat mencari adiknya Saribu Raja ke arah Barat. Pencarianpun mulai dilakukan Biding Laut sesuai yang dikatakan adiknya bahwa dia berangkat ke arah Barat. Biding Laut pun menelusuri jalan kearah Barat, karena sangat sayang terhadap adiknya, Biding Laut tidak mengenal siang dan malam bahkan terhadap hujan dan panas serta teriknya matahari tetap dilaluluinya. Meski telah menyusuri lembah, menyeberangi sungai, mendaki gunung namun Biding Laut tidak menemukan adiknya. Dalam benaknya dia bertanya apakah adiknya masih hidup atau adiknya sengaja membohongi dirinya dengan mengatakan dia pergi ke Barat padahal ke Timur. Biding laut terus mencari adiknya, bahwa ia tidak akan kembali ke si bolga sebelum membawa pulang adiknya saribu raja. Dengan perasaan kesal dan kecewa memikirkan sang adik akhirnya Biding Laut beristirahat ditepi pantai untuk melepas rasa penat dan lelah. Dari pinggir pantai Biding Laut melihat sebuah pulau timbul pikirannya jangan ­jangan adikku bersembunyi disana, lalu dia bertanya kepada seorang nelayan, pak nama pulau itu apa? Sang nelayan menjawab, pulau mursala, lalu Biding Laut meminta pak nelayan untuk mengantarnya ke pulau tersebut. Setelah sampai dipulau itu, dia mencari disetiap pelosok pulau namun tidak menemukan adiknya Saribu Raja, biding laut berteriak-teriak memanggil nama adiknya dipulau itu namun tidak ada jawaban.

Bersandar pada sebuah pohon sambil merenungkan kira-kira kemana lagi dia harus mencari adiknya. Angin yang berhembus membuat rasa kantuk tidak tertahankan tanpa sadar dia tertidur. Tanpa sepengetahuan Biding Laut ternyata dari seberang, ada seorang pemuda yang membuntutinya, pemuda itu kagum melihat keberanian Biding Laut dan kelembutan serta wajahnya yang cantik. Timbullah hasrat si pemuda itu untuk mendapatkan Biding Laut. Pemuda itu menghampiri Biding Laut yang tertidur pulas serta membangunkannya, pemuda itu menawarkan jasa untuk mengantarkan Biding Laut keseberang. Sambil berjalan Biding Laut bertanya kepada pemuda itu apakah pernah bertemu atau melihat orang asing karena saya sedang mencari adik saya Saribu Raja. Mengapa kamu mencari orang yang tidak tahu dimana dia berada kepada saya kata pemuda itu. Saya tidak pernah melihat ataupun mendengar Saribu Raja adikmu dan kalaupun saya pernah melihat atau mendengar saya tidak akan memberitahukannya sebab kamu anggun dan cantik jadi kamu lebih pantas menjadi istri saya, kata pemuda itu merayu. Mendengar jawaban pemuda itu Biding Laut naik pitam dan mengusir pemuda itu. Pemuda itupun pulang ke desanya dengan membawa dendam dihati.

Keesokan harinya pemuda itu memberitahukan kepada temannya bahwa ia ditantang dan dipermalukan oleh seorang gadis yang cantik dan sakti. Mendengar pengaduan pemuda itu teman-temannya marah serta mengajak pemuda itu menunjukkan dimana tempatnya dan berangkatlah mereka ke pulau dimana pemuda itu pernah mengantarkan biding laut. Tanpa banyak tanya, anak-anak muda tersebut mengeroyok Biding Laut yang sedang santai menikmati segarnya udara pagi. Tangan dan kakinya diikat, ditelanjangi lalu diperkosa secara bergantian sampai Biding Laut tidak sadarkan diri lalu membuang tubuh biding laut ke laut dari tebing curam bebatuan di pulau itu. Karena terombang ambing ombak lautan hindia yang ganas itu, Siboru Biding Laut segera sadarkan diri dan dengan bersusah payah berusaha menepi dari laut. Tubuhnya sekarat terhempas bebatuan karang laut dan dengan suara yang hampir tak kedengaran, dia memanggil-manggil nama ayah dan ibunya yang sudah almarhum itu. Dia juga memanggil-manggil nama abangnya Raja Uti yang telah menjadi pertapa sakti, namun tak ada jawaban sampai dia merasa sudah tak bertenaga lagi menuju kematiannya. Perlahan dengan sisi tenaganya  ia berusaha menggapai sebuah perahu yang tak bertuan dan berhasil naik ke perahu tersebut. Karena tenaganya tidak ada lagi akhirnya ia terbawa hempasan ombak menuju tengah lautan. Yang terakhir terngiang dipikirannya adalah mencari adiknya Saribu Raja  ke manapun dan di manapun sampai akhir hayat. Gelombang ombak Samudra Hindia mengombang-ambingkan tubuh Siboru Biding Laut ke mana arus ombak menghantarkannya. Akhirnya dia terdampar di pantai suatu daerah yang dikenal dengan pelabuhan ratu.

Baca Juga  Kerennya Anak Medan! Putri Semata Wayang Presiden Joko Widodo Sudah Dilamar Anak Medan Marga Nasution

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan namun Sariburja tidak juga ditemukannya. Kehilangan Sariburaja memang bagai ditelan bumi saja baginya. Kemudian  dia melangkahkan  kakinya ke arah timur, dan terhenti setelah melihat dari kejauhan sebuah kawasan datar yang indah. Dia berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya. Dalam hatinya berkata, “di ‘andaran’ sana pasti ada penghuninya, saya harus ke sana untuk mencari adikku, mungkin dia ada disana.” Demikian pikirnya. (Adaran dalam bahasa Batak adalah suatu kawasan datar yang terlihat dari jauh). Setelah lelahnya hilang, Siboru Biding Laut melanjutkan pencarian ke kawasan yang disebutnya andaran itu. Tekat yang demikian kuat meyakinkan dirinya untuk melangkah pasti menuju tujuan. Tibalah dia dikawasan yang disebutnya andaran itu,  ternyata kawasan pantai indah di selatan Pulau Jawa.

Seorang nelayan yang kebetulan melihat biding lau compang camping dan seperti sudah kelelahan itu kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak pinangan tersebut, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur. Tak sadar perjalanan waktu sudah panjang dijalaninya. Duapuluh tahun tak terasa bahwa dia menjadi penghuni daerah yang disebutnya sebagai Pangandaran. Ilmu pengetahuan dan kesaktian sudah banyak yang diterima dari raja Sansakti. Dia sudah matang menjadi seorang wanita yang mandiri dan memiliki prinsip hidup walaupun dia hidup dan berada nun jauh dari kampung halamannya. Tekad yang sudah terkandung di dalam hatinya untuk mencari adiknya Saribu Raja masih tetap tertancap mendalam di hati sanubarinya, namun situasi kadang tidak berpihak kepadanya.

Awalnya keharmonisan diruang lingkup kerajaan sangat terasa namun muncul tuduhan bahwa Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukuman kerajaan pun tetap dijalankan yaitu hukuman mati. Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Pelabuhanratu melalui lautan. Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju pelabuhanratu. Mereka melewatii Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan. Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan. Ada yang mengatakan bahwa Nyi Roro Kidul sebelum dipinang seorang raja adalah seorang panglima perang (Ulu Balang) dimana beliau memiliki sifat yang keras.

Di daerah Samosir ada seorang wanita yang kerap kali kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Wanita bernama Boru Tumorang ini sering mengaku sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Itulah sebabnya, Boru Tumorang sengaja didatangkan ke Jawa untuk mengikuti ritual menguak asal usul Kanjeng Ratu Kidul.

Dikutip dari liputan6samosir. Pada Tanggal 1 Maret 2004 Malam jam 20.00 WIB rombongan team dengan tiga mobil kijang berangkat menuju parangtritis bersama nai Hotni serta namboru Nantinjo. Acara dilakukan dalam penjemputan Nyi Roro Kidul / Biding Laut untuk mau kembali ke tanah batak. Biding laut atau Nyi Roro Kidul berkomuikasi dengan team penjemputan melalui tubuh nai hortni. Namboru Biding Laut mengatakan dia hanya mau kembali ke Tanah Batak jiak keterunan dari adiknya Saribu Rajalah yang akan menjemputnya. Karena dia mengalami kedaan seperti itu karena mencari adiknya yang hilang Saribu Raja. Lalu team sepakat untuk mengadakan upacara ritual kepada namboru Tanggal 4 Mei 2004 sebagai tanda bahwa namboru biding laut (Nyi Roro kidul) itu telah kembali ke Raja Batak. Pada tanggal tersebut sesuai kesepakatan diadakan upacara ritual kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut sebagi tanda namboru itu kembali ke Keturunan Raja Batak. Setelah keperluan untuk ritual sudah lengkap keturunan iboto namboru Nantinjo dan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut menyarankan agar memanggil namboru Nantinjo terlebih dahulu untuk mempertanyakan bagaimana cara menyampaikan ulos serta makanan yang telah tersedia kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Namborupun memberikan petunjuk kepada seluruh keturunan ibotonya, setelah itu namboru pergi. Setengah jam setelah namboru pergi nai Hotni sepertinya kesurupan, yang hadir pada saat itu kaget karena tidak tahu apa yang terjadi, namun panuturi (penterjemah) ama nihotni mengatakan bahwa namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut akan datang. Tanggal 14 Juli 2004 namboru Nantinjo mengundang team dan namboru mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Pada saat itu namboru berkeluh kesah tentang Pulau Malau, apakah kalian (team) tidak dapat membantu saya untuk mengembalikan pulau malau? sebab saya melihat ada sekelompok malau yang mau mencoba mengembalikan pulau malau tanpa saya. Kemudian team menjawab, namborukan dapat menghalangi mereka dengan kesaktiannamboru. Namboru mengatakan bahwa sudah selama tiga tahun namboru menghalang-halangi rencana kelompok tersebut sampai kapan aku menghalangi?

Baca Juga  Ratusan Babi Mati di Bali akibat Virus ASF, Pemprov Gelar Kampanye Makan Babi

Bahkan saya telah membuat kehidupan mereka semerawut (ruddut) tetapi tetap saja mereka tidak sadar. Mendengar itu team merasa bingung juga, team melihat ada rasa iba terhadap kelompok tersebut, sepertinya namboru menginginkan agar team berusaha meloby kelompok tersebut untuk tidak memaksakan kehendak mereka. Keinginan namboru jikalau niat mereka baik, kenapa dia tidak diajak sebagai pemilik pulau malau. Team pun berjanji kepada namboru akan berusaha semampunya untuk membantu namboru mengembalikan pulau malau sesuai petunjuk namboru. Team juga bertanya kapan akan dilaksanakan pengembalian pulau malau? namboru menjawab nanti saya beritahukan, saya akan memanggil kalian lagi kalau waktunya sudah tepat. Kemudian team bertanya kira-kira permintaan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut membuat gondang (margondang) kapan namboru menjawab kira-kira tiga atau empat bulan lagi usai itu namboru pulang.

Team mengambil kesimpulan sebelum kembali pulau malau namboru tidak akan pernah tenang. Bahkan siapapun yang berusaha menghalangi ketulusan hati namboru meskipun itu keturunan abangnya akan diberikan ganjaran. Untuk itu team mengajak seluruh pembaca keturunan Oppung Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon untuk mendukung seluruh rencana mulia namboru, mengingat masih banyak rencana namboru seperti:

  • Margondang tiga atau empat bulan lagi merayakan kembalinya namboru Biding Laut
  • MengembalikanPulauMalau
  • Membangun sopo sebagai pertanda di Parik Sabungan
  • Mempersatukan semua keturunan Oppung Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon

Demikianlah segelintir cerita legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul. Team yang ikut dalam penjemputan Biding Laut menghimbau dan mengajak seluruh pembaca ataupun keturunan Guru Tatea Bulan/SiBaso Bolon untuk menjaga nilai-nilai sejarah serta menghormati leluhur.

Sebagai seorang panglima perang (Ulu Balang) yang disegani, Biding Laut memiliki kamar yang telah disediakan yaitu kamar 308 di Hotel Inna Samudera, Pelabuhan Ratu. Banyak orang terutama yang memiliki hubungan keturunan dengan beliau mengunjungi kamar tersebut. Namun semenjak tahun 1994 beliau sebetulnya sudah mengisyaratkan untuk pulang ke kampung halaman di daerah Toba dengan memberikan beberapa tanda tanda di pantai laut selatan.Namun karena berbagai alasan permintaan dari Biding Laut pun baru terealisasi pada tanggal 01 sd 02 Juli 2016 sekaligus dibuatkannya kamar khusus untuk beliau didaerah Samosir tepatnya di Huta Pea Tambok Desa Salaon Tonga Tonga. Jadi selain kamar 308 sudah ada kamar khusus untuk Biding Laut di Samosir.

Facebook Comments