Budaya Indonesia dan Eksistensinya Saat Ini

hitabatak.com > Artikel > Budaya Indonesia dan Eksistensinya Saat Ini

Budaya Indonesia dan Eksistensinya Saat Ini

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Edward Burnet Tylor, kebudayaan merupakan kesuluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soermajan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah  suasana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Pada hakekatnya, kebudayaan itu mempunyai dua segi yaitu : Segi kebendaan, yang meliputi segala buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Segi kerohanian, yang terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tak dapat diraba, hanya penjelmaan saja tetapi dapat dipahami dari keagamaan, kesenian, dan kemasyarakatan. Kebudayaan adalah keselurahan cara hidup baik pemikiran dan praktek yang tidak dapat direduksi menjadi sederet ciri yang seolah esensial.

Indonesia yang sangat kaya baik dalam hal demografi ataupun peradaban yang memiliki sangat banyak budaya, seni, bahasa daerah, pakaian adat, kearifan lokal yang tetap hidup sampai saat ini. Indonesia memiliki kekhasan keanekaragaman budaya yang dapat dijadikan aset yang tidak dapat disamakan dengan budaya asing. Indonesia juga memiliki potensi warisan budaya yang sangat besar karena Indonesia adalah negara kepulauan terluas, yang dihuni lebih dari 300 suku bangsa, memiliki 742 bahasa dan dialek, merupakan laboratorium antropologi terbesar di dunia.

Indonesia juga memiliki peninggalan purbakala sebanyak 64.844 berupa 11.616 situs dan 53.228 benda bergerak sekitar 1,16% atau sebanyak 749 telah ditetapkan sebagai cagar budaya. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 32 ayat 1 disebutkan bahwa “Negara memajukan kebudayaan Nasional di Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kekebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Harus kita pahami dan sadari bahwa, Seni dan Budaya memiliki peran penting didalam pembangunan nasional. Menurut Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud) mengatakan lebih dari 60% orang luar negeri datang ke Indonesia untuk melihat kebudayaan..

Baca Juga  Bantu Pendidikan ditengah Pandemi Covid-19, 1.376 Notebook Dibagikan pada SD dan SMP Negeri Se-Kota Medan

Perkembangan Budaya Indonesia dapat kita ketahui dari perjalanan sejarah Indonesia sebelum merdeka dan setelah merdeka. Sebelum merdeka, Indonesia yang lebih dikenal dengan Nusantara, sangat kental budaya dan adat istiadatnya. Pada zaman kejayaan kerajaan, hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat berhubungan dengan budaya dan adat istiadat. Seperti Kerajaan kerajaan yang besar di Nusantara Majapahit, Sriwijaya, Kutai Kertanegara, dan Kerajaan kerajaan yang ada di seluruh Nusantara yang sangat menghidupi budaya dan adat istiadatnya.

Sampai saat ini juga kita masih tetap bisa menikmati hasil jayanya budaya zaman kerajaan Nusantara yang menjadi warisan budaya Indonesia bahkan dunia seperti yang berbentuk benda : artefak, candi, alat alat musik tradisional dan yang berbentuk tarian tradisional maupun kearfian lokal yang masih bertahan hingga saat ini. Sepanjang abad ke 17 berbagai kerajaan Maritim muncul silih berganti  di Aceh, Banten, Makassar, Ternate, Tidore,  Sumbawa dan sebagainya sampai akhirnya seluruh kerajaan Maritim tuntuk kepada kekuasaan Eropa. Pada zaman kerajaan,  kita memiliki Kerajaan Majapahit yang berjaya di Maritim dan kemudian runtuh yang menimbulkan arus balik dalam sejarah, di zaman itu juga kita memiliki pelaut mandar yang hebat dalam hal berlayar.

Indonesia memiliki 17 warisan budaya dunia yaitu 4 warisan Budaya (Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba di Sangiran, Subak Bali),  4 warisan alam dunia (Taman Nasional Ujungkulon,Taman Nasional Komodo, Tropical Rainforest of Sumatera, Taman Nasional Lorentz), 9  warisan budaya tak benda (Batik, keris, angklung, Museum batik Pekalongan, warisan tari samara, noken, tari tradisi Bali, dan seni pembuatan perahu Pinisi).

Dalam lintasan sejarah Nasional, berbagai masalah dan tantangan baru yang dihadapi kebudayaan Indonesia telah lama menjadi perhatian banyak intelektual dan pemikir kita. Salah satu polemik yang dapat dicatat dan terdokumentasi dengan baik adalah Polemik Kebudayaan pada tahun 1930an. Polemik yang berkutat pada debat tentang bagaimana sebaiknya arah dan visi kebudayaan Indonesia dibangun melibatkan intelektual terkemuka pada zamannya antara lain Sutan Takdir Alisahbana, Sanusi Pane, Dr. Soetomo,Purpacaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Sutan Takdir berpendapat agar pengembangan kebudayaan Indonesia berkiblat kepada Filsafat Barat. Sementara Sanusi Pane, menganjurkan pengembangan kebudayaan Indonesia menggabungkan filsafat Barat dengan nilai tradisi dan pandangan spiritual timur. Posisi terbaik untuk kita adalah Semangat untuk mendalami seluruh khasanah kebudayaan Nusantara.

Baca Juga  Inilah Pekerjaan yang Buat Orang Batak Terkenal Di Dunia

Polemik Kebudayaan pada tahun 1930an dibelakang hari menjadi salah satu motor wacana pemikiran yang melahirkan cita cita dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jauh sebelum polemik kebudayaan tahun 1930an, upaya upaya untuk menjawab masalah dan tantangan kebudayaan seiring dengan perubahan zaman telah dilakukan pegiat budaya dan tokoh tokoh bangsa kita. Pada tanggal 5 Juli 1918, sebuah kegiatan kongres dilaksanakan di Surakarta yaitu Kongres Kebudayaan atau disebut Kongres Voor Javaansche Cultuurontwikke Ling.

Topik yang dibahas pada Kongres tahun 1918 ini antara lain masalah pendidikan, isu isu kebudayaan, benturan bentuk bentuk kebudayaan barat dan timur, isu isu terkait dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pengembangan industri kerajinan. Kongres Kebudayaan I ini, menjadi langkah awal untuk pembahasan isu isu kebudayaan Indonesia yang lebih luas. Nunus Supardi (Peneliti sejarah Kongres Kebudayaan) mengatakan Indonesia memiliki tiga sejarah dibidang budaya dalam kaitan menumbuhkan kesadaran berbangsa yaitu : 1908(Berdirinya Budi Utomo), 1918( Kongres Kebudayaan I), 1928( Sumpah Pemuda).

Budaya Indonesia saat ini dan Eksitensinya

Dunia Modernisasi dan Globalisasi,  sangat berpengaruh pada banyaknya tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia,tidak terkecuali tantangan yang dihadapi Budaya Indonesia saat ini. Tantangan yang dihadapi budaya kita salah satunya  adalah ketahanan budaya Indonesia menghadapi dan bersaing dengan budaya luar. Akibat dari Globalisasi, terjadi krisis kebudayaan yang masih melanda Indonesia yang berdampak pada melemahnya jati diri bangsa. Perubahan sosial  sebagai dampak globalisasi menimbulkan berbagai macam permasalahan sosial budaya di Indonesia.

Beberapa permasalahan sosial budaya yang terjadi di Indonesia sebagai dampak dari Globalisasi diantara lain : Budaya Pop(Budaya baru/asing),  culture shock atau gegar budaya (perubahan perubahan sosial maupun budaya seperti kebiasaan dan kepercayaan akan nilai/norma), cultur lag atau kesenjangan budaya (memudarnya suatu nilai atau norma yang berlaku), meningkatnya sifat individualisme (mementingkan kepentingan sendiri diatas kepentingan bersama) dan perubahahan pola kerja (berbasis pada pengetahuan dan teknologi).

Baca Juga  Kemah 1000 Tenda Akan Hadir di Lake Toba Film Festival bertujuan Nonton Film di Alam Bebas

Permasalahannya juga kurangnya kesadaran masyarakat bahwa kebudayaan penting untuk pembangunan di Indonesia. Melihat banyaknya tantangan tersebut, Pemerintah dan DPR, pada tanggal 27 April 2017 mensahkan UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam Pasal 1 UU tersebut, Pemajuan Kebudayaan adalah upaya peningkatan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia ditengah peradaban dunia melalui perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Usaha pemajuan tersebut dilaksanakan terhadap ekosistem dari sepuluh jenis Objek pemajuan kebudayaan : Tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, Bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisonal. Sehingga dengan sahnya UU No 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan dapat memberikan dampak yang luas untuk ketahanan Budaya Indonesia dan dampak ekonomi serta pembangunan secara Nasional.

Penulis : Sabar Budi Simbolon/Ketua Seni Budaya Batak Bengkulu

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x

Aplikasi Hitabatak di Genggaman Anda

Download Sekarang di PlayStore.