Dies Natalis 21 Sosiologi, Empat Mahasiswa Perkenalkan Budaya Batak

Hitabatak.com/Bengkulu. Acara bertajuk nasional, Dies Natalis yang ke 21, Universitas Bengkulu mengambil tema ” SDM Sosiologi Unggul, Mendukung Indonesia Maju,” dirangkai dalam acara Open House Sosiologi. Acara ini dilaksanakan di aula hotel Rafflesia Bengku pada Kamis (26/09)

Acara ini dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Bengkulu, Para dosen dan staf, Ida Ruwaida selaku ketua Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI), para alumni beserta seluruh mahasiswa Sosial Universitas Bengkulu.

Acara yang dihadiri sebanyak 350 orang ini menampilkan banyak kegiatan dan kebudayaan serta diawali dengan seminar Nasional.

Adalah Febri dan kawan-kawan memperkenalkan kebudayaan suku Batak dengan menampilkan tarian khas suku Batak tersebut.

Dibalut dengan pakaian adat khas suku Batak, yaitu Ulos para mahasiswa mempertunjukkan kebolehannya dalam menari dari budaya Batak. Hal ini disambut para hadirin dengan antusias dan tidak sedikit ikut menirukan tarian Batak yang sedang ditampilkan dalam durasi waktu sekitar 7 menit.

Penampilan budaya Batak ini pun mendapatkan respon positif dari para penonton. Febri mengungkapkan bahwa banyak dari hadirin setelah selesai acara tersebut menanyakan perihal tentang pakaian yang dipakai pada saat penampilan mereka.

” Puji Tuhan, kami sangat bersyukur, karena tanpa diduga respon dari para penonton sangat positif, bahkan tidak sedikit yg menanyakan tentang pakaian yang kami kenakan (ulos), setelah selesai acara,” jelasnya.

Ada sesuatu yang menarik dari penampilan empat mahasiswa ini karena satu dari tiga mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa yang berasal dari Papua.

Pince Ugipa dikarenakan rasa penasaran dan ingin mengetahui mengenai budaya Batak. Pince ikut latihan dan merasa sangat senang ketika bisa ikut tampil dengan membawa budaya Batak melalui tarian-tarian.

” Saya sendiri yang ingin untuk ambil bagian dan mengenal mengenai sedikit budaya Batak makanya saya rajin dalam mengikuti latihan tarian ini dan saya bangga menggunakan Ulos pada saat penampilan,” ungkapnya.

Pince Ugipa, Mahasiswa Asal Papua

Pince juga menerangkan bahwa berangkat dari hal sederhana ingin mengetahui budaya lain maka secara tidak langsung kita sudah menghilangkan sekat-sekat pemisah yang sering kali memicu konflik dan seteru.

Facebook Comments