July 13, 2020

hitabatak.com

kumpulan informasi tentang lirik, budaya, berita batak menarik

Filsafah Batak dalam Tujuan Hidup

Dalam setiap lapisan masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, dimana kebudayaan yang secara turun temurun telah menjadi suatu kebiasaan dan membentuk identitas dari msyarakat itu sendiri.
Begitupun dengan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia, yaitu suku bangsa Batak. Dalam kultur masyarakat Batak terkenal dengan filsafahnya yang sering disebut 3H yaitu “Hagabeon, Hamoraon,Hasangapon”. 3H ini telah menjadi tujuan sekaligus pandangan hidup atau idealisme orang Batak. Di kalangan masyarakat Batak 3H ini adalah melambangkan arti dari suatu kesuksesan. Dengan kata lain jika sudah memiliki 3H, maka bisa dikatakan bahwa ia telah sukses dalam hidup. Maka tidak heran banyak warga suku Batak sangat berusaha untuk mencapai 3H.
Lalu apa sih arti sebenarnya dari 3H ini? Dan jika salah satu dari 3H ini tidak dimiliki apakah berarti orang tersebut tidaklah sukses? Mari kita bahas arti 3H satu persatu.

1. Hamoraon yang artinya adalah memiliki kejayaan, kekayaan atau memiliki banyak harta.

Untuk mencapai Hamoraon maka orang Batak banyak menjadi petarung mengadu nasib samapi keseluruh penjuru dunia demi mendapatkan Hamoraon/kekayaan. bekerja keras menuntut ilmu agar bisa mamora (kaya). Berjuang keras untuk mencapai hamoraon, dan menjadi kaya secara finansial dan material. Manusia Batak tidak akan segan-segan mangaranto/merantau, pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari kekayaan material. Berjuang dengan segala usaha dan modal di pangarantoan, perantauan, untuk bisa mendapatkan kekayaan. Kalau perlu merantau ke seluruh penjuru dunia. Maka munculah istilah bagi orang Batak yaitu “ Pantang pulang sebelum berhasil”. Dimana istilah tersebut menjadi pedoman bagi setiap orang Batak yang pergi merantau untuk berusaha dan bekerja keras demi hamoraon/kekayaan.
Fakta bahwa filsafat hidup Batak masih terus terpelihara dengan baik sampai saat ini terbukti dari dalam pelaksanaan adat filsafat-filsafat hidup itu masih terus diterapkan. Filsafat hidup ini sekilas terlihat mengandung nilai-nilai luhur dan mulia sebab tujuan/cita-cita hidup yang telah membatin dalam jiwa orang Batak, memacu orang batak untuk berjuang lebih gigih tidak mudah menyerah, kerja keras, tekun, memiliki antusiaisme yang tinggi, semangat kompetitif, juga tingginya pengharapan akan masa depan.

Baca Juga  Taklukan Axelsen, Anthony Ginting berhasil melaju ke Daihatsu Indonesia Master 2020

2. Hagabeon yang artinya adalah memiliki kesuburan atau memiliki keturunan lengkap berupa anak lelaki dan perempuan

Ukuran umum Hagabeon dalam bangsa Batak adalah bila mempunyai keturunan baoa (laki) dan boru (perempuan)yang juga kemudian mempunyai keturunan lagi. Jadi bila seseorang dalam hidupnya sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki, cucu dari anak perempuan, serta semua anaknya baik laki dan perempuan sudah berumah tangga dan mempunyai keturunan, maka ia disebut gabe. Hagabeon nya menjadi sempurna ketika masih hidup ia masih bisa melihat cicit (apalagi kalau dari cucu perempuan dan cucu laki-laki). Itulah puncak sempurna hagabeon manusia Batak.
Masalah hagabeon dalam alam pikiran orang Batak sangat penting. Keturunan yang banyak dianggap menjadi bagian yang mempengaruhi kesempurnaan hidup seseorang. Kalau keturunannya banyak, bertambah besar tuahnya.
Dalam sistem patriarkhal yang berlaku dalam adat Batak, hanya anak laki-laki yang diakui sebagai anggota keluarga penuh. Hal itu didasarkan pada kenyataan, karena suatu saat anak perempuan harus meninggalkan rumah orangtuanya untuk menjadi anggota dari keluarga suaminya.
Pemikiran itu diuangkapkan dalam peribahasa : “langge so langge, tobu so tobu” Adong boru bulung tu ginjang, so adong anak urat tu toru” artinya : keladi bukan keladi, tebu bukan tebu, ada anak perempuan daun mengembang ke atas, tiada anak lelaki akar meluas ke bawah. makna dibalik filsosofi ini adalah hanya anak laki-laki yang diharapkan dapat memelihara kelangsungan keturunan serta mempertahankan generasi marga/silsilah.Jikalau seorang meninggal dunia tanpa anak laki-laki, meskipun memiliki banyak harta atau memiliki jabatan tinggi serta terpandang di masyarakat hidupnya dianggap tidak bermakna serta tidak sempurna. Dinamika filsafat ini mendorong setiap orang Batak menghendaki adanya anak laki-laki sebagai generasi penerus, agar silsilahnya tidak putus atau hilang.

Baca Juga  Lowongan Kerja Terbaru Untuk Posisi: Supir Pribadi Di PT. Gotong Royong Jaya Medan Juni 2020

3. Hasangapon yang artinya adalah memiliki kehormatan atau dihormati dalam masyarakat, memiliki kemuliaan atau yang diartikan juga memiliki status sosial yang tinggi.

Seseorang yang dianggap sangap,berarti ia menjadi pribadi sempurna, manusia yang mencapai status tinggi dalam kehidupan, dan tidak ada cemoohan dari orang lain. Biasanya seseorang menjadi sangap, bila dalam tingkat tertentu ia juga mempunyai hamoraon dan mempunyai hagabeon. Karena itu , sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan seseorang sudah mencapai hasangapon sekarang ini.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa prinsip mencapai 3H ini bukan menjadi impian bagi setiap orang Batak saja akan tetapi menjadi cita-cita semua orang di berbagai belahan dunia.
Filosofi 3 H tersebut sebenarnya sah-sah saja, dan sepanjang itu digunakan secara positif. Seseorang berusaha dalam hidupnya untuk mencapai 3H secara utuh dan tanpa cacat. Tapi bila hal itu dilakukan dengan cara-cara yang kurang terpuji, maka masyarakat tentu akan menilai apa sesungguhnya yang bisa dicapai dalam 3 H. Dan sesungguhnya ia tidak mencapai hasangapon.
Kalau ditanya, apakah saya akan mencapai ketiga falsafah ini? Pasti jawaban saya adalah YA. Falsafah ini dibentuk oleh nenek moyang kami orang Batak pasti memiliki tujuan supaya berjuang menuju kualitas hidup yang lebih baik lagi dari sekarang (mungkin juga menjadi latar belakang orang batak itu terbentuk menjadi pribadi pekerja keras). Tapi sejauh mana? Sejauh saya mampu mendapat saja. Nggak jarang kok ada orang tidak merasa puas dengan kekayaan yang berlimpah, tidak merasa cukup kalau jenis kelamin anak belum dapat laki atau perempuan, dan tidak puas dengan kehormatan yang sudah di dapat selama ini. Fasafah ini menjadi baik kalau apa yang kita dapat bisa di syukuri dan dijadikan perbaikan diri. Tapi falsafah ini bisa jadi boomerang kalau kita tidak pernah merasa cukup dengan apa yang kita punya.
Namun semua itu kembali lagi pada diri pribadi semua orang. Arti sukses tidak selalu diartikan dengan memiliki harta kekayaan, memiliki keturunan, atau memiliki kekuasaan. Setiap orang berbeda-beda mengartikan arti kesuksesan itu sendiri. Ada orang memiliki harta berlimpah tetapi tidak memiliki anak, namun dia cukup puas dan sudah merasa sukses. Atau tidak memiliki harta berlimpah tapi memiliki anak dan baginya itu juga suatu kesuksesan.
Bagaimana arti kesuksesan menurut anda?

Facebook Comments