Legenda Marga Simanjuntak

Suku Batak memiliki banyak cerita legenda yang tidak bisa dilupakan, seperti terjadinya batu gantung di parapat, legenda terjadinya orang Batak dari dolok pusuk buhit. Dan banyak legenda lain yang sangat menarik di dalam kebudayaan Batak.
Kali ini akan membahas tentang legenda marga Simanjuntak yang sangat menarik, yaitu adanya dua jenis marga Simanjuntak yaitu Simanjuntak horbo jolo dan Simanjutak Horbo Pudi.

Advertisements

Legenda yang banyak dipercayai oleh orang Batak adalah bahwa orang Batak itu keturunan Sang Raja Batak.
Si Raja Batak ini mempunyai anak banyak gari keturunan dan sampai ke marga-marga yang ada di orang Batak. Seperti salah satu kumpulan marga Tuan Somanimbil.
Tuan Somanimbil mempunyai 3 orang anak:
1. Somba Debata Siahaan,
2.Raja Marsundung Simanjuntak,
3. Tuan Maruji Hutagaol.

Raja Marsundung inilah yang nantinya menurunkan marga Simanjuntak.

Raja Marsundung Simanjuntak menikah dengan seorang wanita bermarga Hasibuan (boru Hasibuan) dan memiliki seorang anak laki2 bernama Raja Parsuratan dan seorang anak perempuan bernama Sipareme
Di kampung itu Simanjuntak dikenal sebagai orang kaya yang mempunyai tanah yang luas dan seekor kerbau sehingga dijuluki Simanjuntak Parhorbo.

Singkat cerita, suatu saat istrinya, yaitu Boru Hasibuan meninggal dunia dan Simanjuntak menjadi seorang duda. Atas saran keluarga, Simanjuntak mencari istri lagi dan akhirnya menikah dengan Boru Sihotang, walaupun anak laki-lakinya, Parsuratan tidak menyetujui pernikahan tersebut. Pada saat anaknya dari istri kedua ini lahir, Parsuratan menjadi semakin kesal karena merasa warisannya akan terbagi
Karena kesal, Parsuratan akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap adik tirinya ini sewaktu masih di dalam kandungan. Namur usahanya tersebut gagal, karena berhasil diselamatkan oleh keluarga Sihotang, walaupun ibu tirinya terluka.

Akhirnya anak pertama dari Boru Sihotang ini lahir dengan selamat dan diberi nama Raja Mardaup (tumbal), karena ibunya sudah menjadi tumbal dari kekejaman abang tirinya. Setelah itu, Boru Sihotang masih melahirkan lagi du anak laki-laki, yaitu Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu. Selain itu dia masih mempunyai 2 anak perempuan, yaitu Si Boru Hagohan Naindo dan Si Boru Naompon.

Ketika Raja Marsundung Simanjuntak meninggal dunia , ia meninggalkan warisan tanah dan kerbau miliknya.

Disebutkan dalam cerita itu, anak dari Boru Hasibuan memperoleh hak atas bagian depan kerbau, sedangkan anak dari Boru Sihotang mendapat bagian belakang kerbau.

Jaman dulu keturunan dari parhorbo jolo dan pudi selalu bermusuhan, tidak pernah akur. Bahkan ada beberapa cerita yang menyebutkan bahwa selalu terjadi kesialan bila keturunan kedua pihak bertemu. Bila ada pesta, maka hidangannya akan basi, atau mentah, atau keasinan, dll.
Bila ada pesta adat yang dihadiri keduanya, maka akan terjadi hujan, banjir, petir, angin ribut, dll.

Namun saat ini generasi muda Simanjuntak mulai menyusun kembali persaudaraan mereka, dan mencoba melupakan legenda masa lalu itu.
Di beberapa acara bahkan sudah dilakukan kerjasama kedua belah pihak, dan tidak terjadi apa-apa.

Facebook Comments

About Hitabatak

Berbagi informasi menarik tentang Batak.

View all posts by Hitabatak →
Loading...