Nelayan di Tapteng Takut Melaut Akibat Kabut Asap Membubung di Lautan

Hitabatak.com/Tapanuli Tengah. Kiriman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung dirasakan oleh masyarakat dibeberapa kota/kabupaten di sumatera utara. Salah satunya didaerah kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan tradisional di Kecamatan Pandang, Kabupaten Tapanuli Tengah tidak jadi melaut dikarenakan takut dan para nelayan tradisional juga belum memiliki alat navigasi yang memadai untuk membantu para nelayan menentukan arah kapal ditengah kepulan asap ditengah laut.

Bahkan akibat dari kabut asap yang melanda daerah Tapteng banyak dari nelayan tradisional tidak melaut lebih sepekan ini.

Ucok pasaribu satu dari nelayan tradional menerangkan alasan tidak melaut karena takut.

“Nelayan di sini masih takut melaut karena kabut asap yang tebal, kami di sini takut nyasar,” kata Ucok, Minggu (22/9/).

Ucok mengatakan, kabut asap di wilayah Tapteng semakin pekat. Kabut asap membuat jarak pandang mereka sebagai nelayan terbatas. Selama ini mereka hanya mengandalkan jarak pandang saat melaut, karena mereka tidak memiliki alat navigasi modern.

“Kami enggak bisa melaut. Alat tradisional tidak ada navigasinya di perahu kami,” ungkapnya.

Ucok mengaku, mereka bisa saja melaut hingga ke tengah. Tetapi mereka khawatir dengan jarak pandang yang sangat terbatas, dan mereka takut tidak bisa pulang ke darat akibat jarang pandang sangat terbatas.

“Bisa nyasar, bahkan bisa sampai ke Samudera Hindia kalau tidak ada alat penunjuk arah,” sebutnya.

Ketakutan nelayan di Tapteng untuk melaut saat ini cukup berasalan. Pada tahun-tahun sebelumnya, dengan kondisi udara yang sama, banyak nelayan tersesat. Belum lagi dengan kondisi cuaca saat ini yang mulai memasuki musim penghujan.

“Kadang hujan datang disertai angin kencang, sehingga gelombang laut cukup tinggi. Sebagain besar nelayan di sini, hanya menggunakan perahu-perahu kecil,” ujarnya.

Akibat tidak melaut lebih dari sepekan beakangan, penghasilan nelayan di Tapteng menjadi berkurang. Mereka hanya berani menangkap ikan di pinggir laut.

“Daripada kami nekat ke tengah laut, nyasar dan tenggelam. Risikonya besar,” tutup Ucok.

Sumber : Liputan6.com

Editor : Yed

 

Facebook Comments