Nostalgia Seperti yang Sudah-Sudah
Tak ada salahnya jika kita terus mempertanyakan apa yang sebenarnya kita pelajari dari masa lalu. Atau pertanyaan yang lebih tepat, benarkah kita belajar dari masa lalu? Kolom Bayu KP di #kumparanPLUS

Yang paling berat dari memiliki kenangan indah adalah munculnya keinginan untuk mengulanginya kembali. Beberapa hal memang bisa direka ulang, baik rasa pun momennya. Tapi, lebih banyak kenangan yang pada akhirnya hanya bisa ditinggal di belakang. Terutama dalam hal rasa, beberapa jenis memori bahkan tak terasa benar meski berhasil direka ulang. Walau begitu, kenangan akan masa lalu selalu menyenangkan untuk ditengok kembali. Entah lewat foto masa kecil, mainan masa lalu, hingga lagu-lagu dari masa remaja. Sayangnya, hal macam ini pula yang menyebabkan sebuah generasi merasa memiliki kehidupan masa lalu yang lebih baik daripada generasi setelahnya.

Sebagai generasi yang menghabiskan banyak waktunya di depan televisi tabung dan video game yang bisa disewa per jam, tak jarang saya meremehkan keponakan dan adik-adik kecil yang memainkan game dalam ponsel pintar mereka. Menurut saya kurang seru, kurang terasa tantangannya. Main bareng yang saya rasakan saat kecil dahulu, sekarang sudah berbeda maknanya di era mereka-mereka ini. Bahwa membolos sekolah, kemudian menghabiskan tabungan uang saku ke rental PS 2 bersama kawan-kawan adalah semacam kesenangan yang tak sepadan dibandingkan main bareng tanpa bertatap muka langsung. Tapi, saya pun menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang besar kemungkinan seru bagi yang menjalaninya. Bahkan, bisa jadi dianggap lebih seru dari apa yang pernah saya alami dahulu bersama PS 2.

https://kumparan.com/bayu-kp-1686230568759975741/nostalgia-seperti-yang-sudah-sudah-235tm1g0I2b

What's your reaction?

Comments

https://www.hitabatak.com/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!

Facebook Conversations