DPP Horas Bangso Batak beberapa yang lalu saat pelantikan DPD HBB Jambi.

Pemusnahan Babi Mempengaruhi Kehidupan Sosial Orang Batak

hitabatak.com/Medan. Pemerintah RI melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan 16 daerah di Provinsi Sumut positif terjangkit penyakit ASF babi. Hal itu diumumkan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, dalam Surat Keputusan Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang pernyataan wabah penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) tertanggal 12 Desember 2019.

Adapun 16 daerah itu adalah Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Medan.

Guburnur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi memberikan pernyataan pada Senin (6/1/2020) bahwa untuk memusnahkan virus hog cholera dan satu-satunya cara adalah dengan memusnahkan seluruh babi, baik yang terjangkit virus maupun yang masih hidup.

Pernyataan itu kemudian dinilai menimbulkan kontroversi dan menimbulkan keresahan ditengah masyarakat yang sedang dipimpinnya, ditambah lagi masyarakat yang bersuku Batak yang beternak babi.

Hal ini kemudian menimbulkan reaksi pelbagai tokoh masyarakat Batak, Salah satunya adalah Lamsiang Sitompul selaku Ketua Umum DPP Horas Bangso Batak

Dilansir dari laman Gajahtoba, Lamsiang Sitompul menyampaikan kekecewaan Soal rencana pemusnahan, menurut Lamsiang, itu hanya cara pintas yang tak menyelesaikan masalah.

“Saya juga mendengar keluhan dari masyarakat, tentu kan sangat keberatan. Itu kan hanya mencari jalan pintas, tidak menyelesaikan permasalahan. Saya juga heran kenapa kasus wabah virus ini hanya terjadi di Sumatera Utara”, tanyanya heran Jumat (10/01/2020),

Lebih lanjut Lamsiang melanjutkan bahwa pemusnahan ternak babi ini selain mempengaruhi perekonomian masyarakat Batak yang beternak babi juga akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat terutama orang Batak. Mengingat dalam tradisi  Orang Batak selalu menggunakan babi dalam upacara adatnya.

“Jadi kalau nggak ada babi, sepertinya kurang afdol acara itu untuk sebahagian besar Orang Batak,” katanya.

Baca Juga  Ternak Babi Mati di Sumut Terus Meningkat Hingga 27.070 Ekor

Lamsiang menjelaskan bahwa solusi dari persoalan ini adalah dengan pengobatan dan pencegahan bukan dengan pemusnahan massal.

“Semua Hewan ada penyakitnya. Kalau nanti sediki-sedikit ada penyakit lalu dimusnahkan. Gak ada ternak lagi donk. Bukan seperti itu. Kalau ada penyakitnya, ya diteliti, dan diobati. Pengobatan terhadap penyakit itu. Pengobatan dan pencegahan. Bukan pemusnahan”, jelas Lamsiang.

Terakhir Lamsiang mengungkapkan kekecewaanya karena pemerintah hanya membentuk tim untuk mengubur ternak babi yang mati akibat virus ASF (African Swine Fever)

“Saya sangat kecewa juga, karena sangat minim, bahkan mungkin tidak ada tindakan untuk pengobatan. Saya tidak baca. Tidak pernah baca, ada tindakan dari pemerintah, pemerintah pusat maupun provinsi, maupun pemerintah daerah, untuk mengobati penyakit babi yang sudah berjangkit itu. Nggak ada turun tim. Yang ada hanya tim untuk mengubur. Gitu kan? Pengobatannya apa?”, tegas Lamsiang.

Facebook Comments