Rencana Tuhan Dibalik Pengabar Injil Dr. IL. Nommensen Dan Pengaruhnya Di Tanah Batak

Rura Silindung, suatu daerah yang disebut sebagai daerah Tanah Batak yang pada zaman dulu sebelum kedatangan para penginjil untuk mengabarkan kebenaran Injil untuk masyarakat Rura Silindung. Kedatangan pengabar Injil pertama sekali dilakukan oleh missionaris Henry Lyman dan Samuel Munson yang pertama kali datang ke daerah Rura Silindung. Namun, karena zaman dulu sebelum mengenal Injil, masyarakat Batak di daerah Rura Silindung adalah masyarakat yang kejam dan sangat membenci orang bule karena dianggap sebagai penjajah. Dan jika masyarakat batak bertemu dengan orang luar negeri (orang bule), mereka disebut sebagai “Si Bontar Mata” yang artinya orang yang melakukan penjajahan kepada Indonesia yang dalam hal ini dilakukan oleh Belanda selama bertahun-tahun. Masyarakat batak mengganggap orang yang datang dari luar negeri semua adalah penjajah dan harus dibunuh. Begitulah kira-kira yang terjadi pada pada pengabar Injil pertama yang datang ke daerah Tanah Batak yaitu Henry Lyman dan Samuel Munson. Mereka datang ke Tanah Batak dibunuh dan dipotong seperti halnya bagaimana binatang jika dipotong. Berdasarkan cerita masyarakat sekitar, mereka dibunuh karena dianggap penjajah dan akibat kesalahan dari penerjemah mereka yang melakukan salah pengertian dan penerjemah mereka langsung melarikan diri ketika mereka hendak mau dibunuh. Mereka dibunuh sekitar bulan Juni 1834. Namun dibalik semua ini, Tuhan sudah mengetahui semua rencana ini dan telah mempersiapkan seorang pengabar Injil yang nantinya akan mengabarkan Injil ke daerah Batak yaitu Nommensen. Nommensen lahir pada tanggal 6 Februari 1834 sebelum kematian dua missionaris sebelumnya yaitu Munson dan Lyman.

Nommensen pergi ke Tanah Batak sebagai missionaris telah mempelajari kematian Munson dan Lyman sebelumnya. Kenapa missionaris tersebut sampai meninggal dan dibunuh oleh orang Batak. Kedatangan Nommensen ke Tanah Batak telah dipersiapkan Tuhan dengan berbagai resiko yang ia akan hadapi seperti missionaris sebelumnya. Ia tahu akan hal itu akan terjadi dalam hidupnya, namun karena tekat ingin mengabarkan kebenaran Firman Tuhan, ia tetap melakukan tugas sebagai missionaris. Ketika ia datang ke daerah Tanah Batak, ia telah mempelajari sedikit bahasa Batak, supaya tidak terjadi kesalahan seperti Munson dan Lyman yang sebagian disebabkan penerjemahnya. Ia ditugaskan sebagai pengabar Injil pertama kali di Sumatera dan tiba pertama kali di Padang dan melanjutkan perjalanan ke Barus.Namun pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda tidak menerima kedatangannya, sehingga dia pergi lagi ke daerah Sipirok untuk menjumpai teman pengabar Injil yang lain. Tetapi, karena di Sipirok sudah sebagaian besar memeluk agama Islam, jadi sangat sudah untuk mengabarkan Injil Kristen, sehingga ia ditugaskan ke Tarutung untuk mengabarkan Injil.

Baca Juga  Profil Luhut Binsar Pandjaitan

Kedatangan Nommensen ke Tarutung, ia pertama kali ke daerah Pearaja dan saat menjumpai masyarakat Batak disana pertama kali, ia mengucapkan “ Horas” yang membuat masyarakat Batak disana merasa heran, kenapa dia tahu bahasa mereka. Ucapan “Horas” adalah ucapan kehormatan masyarakat Batak ketika bertemu dengan yang lain. Namun dengan ucapan tersebut pun, banyak masyarakat mengganggap bahwa Nommensen adalah “Si Bontar Mata” (penjajah). Ia tetap berkeliling ke kampung tersebutdan menyapa warga disana dan yang menjamu dia pertama kali adalah Ompu Pasang (Ompu Tunggul) kemudian tinggal di rumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas Lumban Tobing. Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.

Sekembalinya dari Sipirok, Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari Lumban Tobing. Nommensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengizinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi Raja Aman Lumbantobing sedang pergi kedesa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Dari Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Dari Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman ke desanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal dirumahnya. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian mengizinkan Nomensen tinggal di rumahnya.

Baca Juga  Sijagaron Dalam Upacara Pemakaman Orang Batak

Akan tetapi, pada mulanya Raja Pontas Lumbantobing tidak mau menerima Nommensen. Dia berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung supaya menolak Nommensen. Sebaliknya, Raja Aman Dari Lumban Tobing, juga berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung untuk menerimanya. Sehingga masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal penerimaan terhadap Nommensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nommensen), Nommensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.

Satu tahun kemudian, tahun 1865, Nommensen dapat melakukan pembabtisan pertama kepada satu orang Batak. Bahkan di kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, meminta supaya dia dan keluarganya dibaptis. Pada saat itu juga Raja Pontas meminta supaya Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya masuk Kristen, masyarakat Silindung makin banyak masuk Kristen.

Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, Nommensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. Di kemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipaholon. Kemudian, Nommensen membuka pos Penginjilan baru di Sigumpar. Dari sanalah dia menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.

Begitulah kira-kira perjalanan Nommensen sampai ia mengabarkan Injil sampai seluruh daerah Tanah Batak.

Namun sebagai bukti nyata dari pengabaran Injil Nommensen dan kematian Munson dan Lyman, ada beberapa hal penting yang harus kita ketahui dan hal ini berdasarkan pengalaman dan cerita dari keluarga yang pernah berhadapan langsung dengan Nommensen dan Munson dan Lyman.

Kematian Munson dan Lyman yang dibunuh oleh orang Batak dan keturunan yang membunuh Munson dan Lyman tersebut, sampai pada keturunan sekarang, tidak ada yang menjadi sukses besar berdasarkan cerita dan pengalaman dari keluarga dari keturunan yang membunuh Munson dan Lyman dan mereka berkesimpulan ini adalah hukuman mereka buat keturunan yang membunuh missionaris Munson dan Lyman.

Baca Juga  Tokoh Masyarakat Batak di Provinsi Riau, Mulai Dari Pekerja Buruh Kasar, Pengusaha Sukses, Politisi Ulung, Hingga Menjadi Seorang Aktivis

Namun sebaliknya, semua keturunan dari keluarga yang menolong Nommensen dan menjamu Nommensen pertama kali yaitu keturunan Raja Pontas Lumbantobing dan Raja Aman Dari Lumbantobing bercerita dan berdasarkan pengalaman apa yang terjadi pada mereka, mereka diberkati Tuhan dengan diberik pekerjaan yang baik dan termasuk sebagai orang yang sukses.

Mari berbuat baik untuk sesama kita manusia, maka Tuhan akan memberikan berkat-Nya kepada kita.

Facebook Comments
About Hitabatak 1175 Articles
Berbagi informasi menarik tentang Batak.