Artikel

Siapakah Suku Batak Itu?

Kita ketahui banyak orang yang bingung mengenai suku batak, bahkan tidak sedikit juga orang batak yang tidak mengetahui tentang asal usul mereka, dan bahkan siapa sajakah yang termasuk kedalam suku batak.

Karena saya sendiri pribadi juga masih suka bingung untuk menjelaskan kepada teman saya jika ada yang bertanya yang bagaimanakah dapat disebut sebagai suku batak?.

Disini kita akan coba kenali satu-persatu, ada berapakah sebenarnya suku batak itu?, dan tentu juga kita akan membahas sedikit tentang asal suku batak terlebih dahulu.

Suku batak merupakan salah satu suku bangsa terbesar dari ratusan suku yang berada di Indonesia, dengan memiliki berbagai macam marga, golongan, dan bahasa. Asal muasal suku batak sangat sulit untuk ditelusuri mengingat minimnya sejarah peninggalan mengenai asal mulanya suku batak di Indonesia.

Menurut legenda yang dipercayai sebagian masyarakat
Batak bahwa suku batak berasal dari pusuk buhit daerah sianjur Mula Mula barat pangururan di pinggiran danau Toba.
Jika kita mengambil dari versi sejarah Batak mengatakan bahwa siRaja Batak berasal dari Thailand yang menyebrang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya sampai ke Sianjur Mula Mula. Dan ada juga yang menyebutkan bahwa Raja Batak berasal dari suku Tamil, India.

Karena rasa hormat terhadap leluhurnya maka hampir seluruh suku batak memberikan gelar Raja pada marga-marga leluhurnya. Bahkan juga makam-makam para leluhur orang Batak dibangun sedemikian megah dan bahkan dibuatkan tugu yang bisa menghabiskan biaya milyaran rupiah. Selain sebagai penghormatan tugu ini juga dimaksdukan untuk mengingatkan generasi muda akan silsilah mereka.

Dalam sistem kemasyarakatan suku Batak terdapat apa yang disebut Marga yang biasanya dipakai diakhir nama dan secara turun temurun dengan mengikuti garis keturunan laki-laki. Dan diperkirakan ada 227 nama Marga pada suku Batak.
Itulah cerita singkat tentang asal muasal suku Batak, dan tentunya pasti kita tahu cerita selanjutnya dari keturunan-keturunan Guru Tate Bulan, raja Isombaon dan Toga Laut sehingga akhirnya lahirlah marga-marga Batak yang kita kenal sekarang.

Baca Juga  Istilah Bahasa Medan Yang Harus Kamu Pahami Jika Berteman Dengan Orang Medan

Dari beratus-ratus marga yang ada tahukah kamu bahwa itu berasal dari golongan etnis batak yang berbeda? Berbeda etnis berbeda pula dialek yang dipakai, bahkan sampai istilah penyebutan untuk kakak, adik, paman dan yang lainnya juga berbeda.
Baiklah mari kita mulai, Suku Batak memiliki 6 sub etnis yaitu: Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun dan Toba. Jadi jangan ada yang bertanya lagi apakah etnis Pakpak termasuk Batak? Atau ada yang bilang Karo tidaklah termasuk Batak. Karena sudah dijelaskan bahwa suku Batak memiliki 6 sub etnis yaitu Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak,
Simalungum, dan Toba.

Dan kita dapat menarik kesimpulan bahwa ke-6 etnis tersebut adalah suku Batak, selain dari ke-6 etnis tersebut saya tidak tahu lagi apakah ada etnis yang lainnya yang juga termasuk dalam suku Batak.

Identitas Batak populer dalam sejarah Indonesia modern setelah di dirikan dan tergabungnya para pemuda dari Angkola, Mandailing, Karo, Toba, Simalungun, Pakpak di organisasi yang di namakan Jong Batak tahun 1926, tanpa membedakan Agama dalam satu kesepahaman : Bahasa Batak begitu kaya akan Puisi, Pepatah dan Pribahasa yang mengandung
satu dunia kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi jelas dalam berbagai dialek yang berbeda-beda. Suku Batak memiliki budaya sendiri, Aksara sendiri, Seni Bangunan yang tinggi mutunya yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa

Suku batak mempunyai nenek moyang yang perkasa. Sistem marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri menunjukkan adanya tata negara yang bijak, bahkan suku Batak mendirikan sebuah persatuan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan mereka dan melindungi budaya kuno. Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra.

Baca Juga  Pangulubalang Penjaga Masyarakat Batak Toba

Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing-masing. Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horas, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yaitu “ Mejuah juah ” dan “ Njuah juah “. Berikut adalah salam khas masing-masing etnis suku Batak.

1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua
Bulung!”

Dan berikut adalah kelompok etnis terdekat dengan suku Batak, yaitu:

1. Suku Alas
2. Suku Nias
3. Suku Melayu
4. Suku Minangkabau
5. Suku Bugis
6. Suku Toraja
7. Suku Rimba
8. Suku Gayo
9. Suku Singkil
10. Suku Aceh

Namun sempat ada kontreversi karena sebagian etnis suku Batak sempat tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari suku Batak, seperti Karo, angkola dan Mandailing. Selain perbedaan agama menyebabkan sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak, Meski mayoritas masih mengakui dirinya bagian dari suku Batak. Wacana tidak mengakui
identitas sebagai suku Batak itu sempat muncul disebabkan karena pada umumnya kategori “Batak” dipandang primitif dan miskin oleh etnik lain masa Orde Baru.

Di pesisir timur laut Sumatera, khususnya di Kota Medan, perpecahan ini sangat terasa. Terutama dalam hal pemilihan pemimpin politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi.
Sumber lainnya menyatakan kata Batak ini berasal dari rencana Gubernur Jenderal Raffles yang membuat etnik Kristen yang berada antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Islam Minangkabau, di wilayah Barus Pedalaman, yang dinamakan Batak.

Baca Juga  Kenapa Penggunaan Bahasa Batak Makin Berkurang? Ternyata Ini Alasannya

Generalisasi kata Batak terhadap etnik Mandailing (Angkola) dan Karo, umumnya tak dapat diterima oleh keturunan asli wilayah itu. Demikian juga di Angkola, yang terdapat banyak pengungsi muslim yang berasal dari wilayah sekitar Danau Toba dan Samosir, akibat pelaksanaan dari pembuatan afdeeling Bataklanden oleh pemerintah Hindia Belanda, yang melarang penduduk muslim bermukim di wilayah tersebut.

Konflik terbesar adalah pertentangan antara masyarakat bagian utara Tapanuli dengan selatan Tapanuli, mengenai identitas Batak dan Mandailing. Bagian utara menuntut identitas Batak untuk sebagain besar penduduk Tapanuli, bahkan juga wilayah-wilayah di luarnya.

Sedangkan bagian selatan menolak identitas Batak, dengan bertumpu pada unsur-unsur budaya dan sumber-sumber dari Barat. Penolakan masyarakat Mandailing yang tidak ingin disebut sebagai bagian dari etnis Batak, sempat mencuat ke permukaan dalam Kasus Syarikat Tapanuli (1919-1922), Kasus Pekuburan Sungai Mati (1922), dan Kasus Pembentukan Propinsi Tapanuli (2008-2009).

Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklasifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Pakpak dan Angkola sebagai etnis Batak.

Demikian penulis dapat menceritakan tentang siapakah yang termasuk dalam suku Batak itu? Jika ada kekurangan ataupun salah dalam penulisan gelar atau marga, penulis memohon maaf.  Saran dan kritik yang positif sangat diharapkan, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca.

Facebook Comments